Skip to main content

Ibu dan Kesabaran Tak Dapat Dipisahkan :)



Selesai mengulangkaji topik bagaimana menjaga orang tua dengan sabar dan ihsan, mengulangkaji dan mendalami pula topik keibubapaan. Sekali lagi airmata menitis, Ya ALLAH sesungguhnya setiap amanah dan tanggungjawab dalam hidup ini tidak boleh lari dari satu perkaatan iaitu KESABARAN.

Abdullah oh Abdullah... Alhamdulillah ALLAH menjadikanmu wasilah untuk mama menambah kematangan dan kesabaran. Menjadi ibu, menjadi pendidik generasi itu sangat sukar - namun mama percaya ALLAH tak pernah meninggalkan hambaNYA yang berusaha mencari jalan ke syurga bersama keluarga... 
 
(Rujuk Al Ankabut:69)

Mendidik Abdullah bererti mendidik hati dan peribadi mama sendiri.


Berganti minggu, berganti bulan, berganti tahun - semakin faham erti ibumu, ibumu, ibumu... semakin faham erti birrul walidain (berbuat baik kepada ibu bapa).
 


"I wish there is a shorter way but parenting does take time and does take patience and need to be carried with wisdom. Because it does not just build your child, it builds you too.

Yes, you are required to have super sabar. However, it is not asking you to immediately have it. Build it one bit a day and before you know it, you have that super sabar... The thing that you must continue to have in you is the desire to have that sabar and not to be angry with yourself if you fail once, twice, thrice...just continue." (Prof Rozieta)

Terima kasih sahabat-sahabat fb dan blogger yang memanfaatkan dunia maya ini untuk berkongsi ilmu yang sangat bermanfaat! ♥
 
Dulu waktu bersalin, rasanya waktu itu stage yang sangat sukar menjadi ibu. Kemudian, waktu anak berusia bulan-bulan terawal kehidupan, rasanya waktu itu sangat sukar. Bila kini anak semakin aktif, rasanya sukar juga :O Tiada siapa yang menjanjikan kehidupan ini makin mudah.

Namun janji ALLAH itu, bersama kesukaran ada kemudahan. Betul! Janji ALLAH, untuk orang yang bertaqwa ada jalan keluar.. Betul!

Menjadi ibu yang beriman, adalah pasti buatnya pahala, pertolongan dan kasih sayang ALLAH ♥

Ya ALLAH tambahkanlah ilmu ku!
 
 Memandangkan saya sedar kemarahan saya pada abdullah lately dah terlebih dose, saya mungkin boleh praktikkan tips ini:

" I need to find a way to be less angry and so easily scoldi
ng my children.

What I did was, I actually counted how many time I scolded my children in a day. The first day I counted, I scolded them more than 30 times a day. Then I made a conscious decision that I will reduce it by one time less. Each day, it reduced to one time less. But there were days that I failed and when back to more than the day before. However, I persevered and continue until came a day that I realize I did not actually scold them anymore. What was more and rewarding to me was that they became happier children. " (Prof Rozieta)

"There is nothing wrong with scolding for the right reason. What we do not want to do is scolding them for the wrong reason and in a wrong and demoralizing way. When you scold your children for the wrong reason, then, you know deep inside, that is not right and when you are alone or they are asleep, there is this guilt feeling that eats you inside."

Seimbangkan marah dan penghargaan, ok insyaALLAH!
 
 
 
 
 
 
 

Comments

Cimas Tc said…
Topik bagaimana menjaga orang tua dengan sabar dan ihsan- bolehkah Nurul berikan tipsnya? atau berkongsi di mana untuk saya cari ilmu tentangnya? Terima kasih. :)
nur kasih said…
Assalamualaikum kak Adni...sy ada emelkan satu pertnyaan pada akak...mohon belas ihsan akak tuk membalas emel sy...
nur kasih said…
Assalamualaikum kak adni...sy telah menghantar emel pada akak...sy mohon belas ehsan akak tuk membalas emel sy...
susumanis said…
Bila marah anak iringi dengan sebutan zikir..kadang lucu anak juga menyebut zikir bila marahkan kita, contoh, Allahuakabar bertuahnya Abdullah sepahkan rumah, Allahuakbar..Allahuakbar..kita pun x jadi marah sangat sbb setan lari dengar zikir yang di tuturkan..insyaallah

Popular posts from this blog

Menjadi isteri kedua

Ketika suami menikah lagi...

Pengalaman Sebagai Pembantu Di Klinik

Poligami: Bersedia Hadapi Ombak Perasaan

Suami Isteri: Berbaloikah Perhubungan Jarak Jauh?