Skip to main content

Syahadah Kunci Bahagia



Assalammu'alaikum wa rahmatullah

Sahabat-sahabat yang dikasihi...kali ini saya ingin berkongsi satu tajuk yang besar dan sangat penting untuk kita. Tentang syahadah. Dari kita sekolah darjah satu hingga tingkatan lima, kita sangat tahu bahawa rukun islam yang pertama adalah mengucap dua kalimah syahadah. Namun, adakah rukun islam itu berhenti sekadar dengan 'ucapan kosong dua kalimah'? Kita biasa mendengar tentang syarah sah solat. Syarat sah wuduk. Syarat sah nikah. Apa pula syarat sah untuk syahadah?

Apa yang kita faham dengan tiada tuhan selain ALLAH?
Apa pula maksud Nabi Muhamad saw pesuruh ALLAH?

Sesungguhnya hati yang tidak bahagia berakar umbi dari kejahilan mengenal makna dan syarat sah syahadah yang unggul dan mulia. Jom kita sama-sama belajar, saya sendiri pun, setelah dewasa ini baru mengenali dan berusaha mendalami. Saya kongsikan sekadar sedikit yang saya tahu, yang salah mohon dibetulkan kerana kita sangat takut mengungkapkan sesuatu yang salah tentang Tuhan, ALLAH yang Maha Agung ...

Salah satu buku yang saya baca untuk topik syahadah ini bertajuk Panduan Akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, maka saya kongsikan di sini dari pemahaman saya yang mentah.

Syarat-Syarat Sah Syahadah

“... Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya aku (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba menjumpai Allah (dalam keadaan) tidak ragu-ragu terhadap kedua (syahadah)nya tersebut, melainkan ia masuk syurga.”[Riwayat Muslim]

Kalimah syahadah ini begitu berharga yang mana dengannya boleh membuka jalan untuk kita meraih redha ALLAH dan masuk syurga...namun apa syarat-syaratnya?

1. Ilmu - Memahami makna sebenar tiada Tuhan yang disembah melainkan ALLAH. DIA lah tujuan hidup, Dia lah pencipta, pemberi rezeki, pelindung, tumpuan dan sembahan, kepadaNYA lah seluruh kehidupan, ibadah dan cinta...

 Namun bila memuhasabah diri di manakah pula tumpuan dan cinta kita kala ini....? Adakah dalam berbincang dan bersembang dengan rakan-rakan jua ahli keluarga ada menyebut-nyebut ALLAH dan Rasul SAW? Adakah cinta dan tumpuan hanya kepada suami, anak-anak? Kepada perhiasan diri dan perhiasan rumah? Kepada hiburan dan asyik berhibur? Kepada artis? Kepada fashion dan kecantikan? Kepada makan dan restoran kegemaran? Jika ya, itulah jawapan kenapa kita jauh dari bahagia...

Memahami bahawa Nabi Muhammad SAW itulah pesuruh ALLAH yang membawa segala pedoman dan kebaikan yang wajib diikuti seluruhnya dan semampunya. Mengerti bahawa mengucap dua kalimah syahadah itu punya kesan yang hebat pada seluruh kehidupan. Berubah dan taat.

Allah juga membeli diri kita dengan syurga, agar jiwa raga dan harta kita korbankan di jalanNya. Jika kita memahami ini, akan rasa sangat cinta kepada ALLAH, Rasul dan Islam....ohh inilah yang paling mencabar...:(

Apapun teman-teman, teruslah kita berusaha menjadi muslimah seperti yang ALLAH redhai, bimbinglah diri kita berperilaku muslimah, seorang anak, seorang isteri, seorang ibu yang mencintai dan dicintai Rasulullah SAW.

Seperti di dalam sebuah hadis sahih, "...Berbahagialah, berbahagialah, berbagialah mereka yang beriman kepadaku meskipun mereka tidak melihatku..."

2. Yakin - Keyakinan akan membawa istiqamah. Dengan ilmu kita akan yakin jalan yang kita tempuh. Tidak akan ragu-ragu dengan misi dan visi kita untuk berada di jalan yang lurus, sekalipun dugaan dan godaan dunia tidak berhenti mendatangi. Kita yakin ALLAH berkuasa dari segala-galanya, ALLAH Maha Penyayang dan Pengasih, maha Mengabulkan Doa hambaNYA. Yakin dengan ALLAH akan membawa kita bermotivasi dengan kebaikan, malah inilah syaratnya untuk ALLAH menerima syahadah kita.

3. Menerima - Menerima segala tanggungjawab dan amanah yang diberi sebagai hamba, khalifah, selalu berusaha meng'upgrade diri dari banyak aspek, seperti aspek ibadah khusus dan aspek interaksi dengan manusia. Malah, apabila kita benar-benar menerima syahadah, ia akan membantu kita menghadapi apa jua masalah dan sitiuasi dengan penuh keimanan kepada ALLAH. Kita tidak mudah menyalahkan, kerana hubungan hati yang kuat dengan ALLAH meyakini adanya kebaikan dalam semua keadaan dan berusaha yang termampu untuk menghadapi ujian.

4. Tunduk patuh dan melaksanakan kewajipan - Tak mungkin kita kata kita bersyahadah dengan benar sedangkan kita tidak menjaga solat, tida puasa, tidak amar makruf nahi mungkar, tidak mengingatkan manusia kepada akhirat, tidak mengisi masa dengan amal soleh dan berpesan kepada kebenaran dan kesabaran. Benarkah syahadah jika tidak berakhlak kepada hamba ALLAH yang lain? Tidak peka dengan kehadiran  makhluk ALLAH bernama haiwan dan tumbuhan?

Adakah orientasi belajar, kerja dan rumahtangga kita melangkai wilayah dunia...untuk cita-cita akhirat yang agung?

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” [An-Nisaa': 125]

5. Ikhlas - Apapun yang kita lakukan hendaklah menolak syirik, tidak riyak, bukan untuk kepentingan peribadi dan dunia - hanya kepada ALLAH seluruh ketundukan dan jiwa raga. Hati insan sering berubah setiap jam, setiap hari. Keikhlasan adalah sesuatu yang sangat sukar, namun ia tidak mustahil. Bukan mengharap penghargaan manusia, namun memfokus, apakah ALLAH telah redha dan menerima amal dan diri kita...?

Untuk apa belajar, bekerja, berumahtangga, berdakwah...adakah kerana itu semua bentuk pengbadian kita yang tulus kepada ALLAH? Atau hanya mengharap penghargaan dan cinta manusia, atau hanya mengharap wang dan kesenangan material? 

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya...” [Al-Bayyinah: 5]

6. Jujur dan membenarkan - Iman tidak mungkin sah hanya di lidah atau dengan kata-kata. ALLAH mahukan amal soleh seiring dengan keimana di hati. Iman sering juga diuji untuk melihat nilainya. Adakah kita mampu berakhlak dengan akhlak yang ditunjukkan Rasulullah SAW sewaktu kita diberi tekanan dan tertekan? Sewaktu kita dihanyut perasaan?  Mampukah tetap mencari redha ALLAH tika hati ingin menjauh dan tak tentu arah?

Apakah kami mengatakan kamu beriman sedangkan kamu tidak diuji? Kehidupan yang berlandas keimanan akan tidak berhenti dari ujian ALLAH, untuk ALLAH memilih siapakah yang lebih baik dan terbaik...

Dulu ALLAH menguji saya dengan dua kali proses tunang yang terputus, tidak sampai kepada alam pernikahan. Sakitnya..ALLAH saja yang tahu. Kemudian, ALLAH menguji pula dengan lamaran poligami, yang juga menguji kesabaran dan sangat getir terasa ketika itu. Kemudian ALLAH menguji lagi hati ini dengan suami yang disayangi memperolehi anugerah seorang isteri lagi. ALLAH selalu menguji kita dengan sesuatu perkara yang kita suka dan cinta kan? Mungkin kah untuk kita merenung - siapa yang lebih kita cinta? Sayangnya ALLAH pada kita kan... ALLAH ingin kita selalu mencari cintaNYA melebihi cinta kepada yang lain...

7. Mahabbah (Cinta) - Orang beriman amat besar cintanya kepada ALLAH. Dan Rasulullah. Bagaimana cinta kita kepada ALLAH dan Baginda SAW...?? Syahadah kita tak mungkin benar tanpa rasa cinta. Apabila diuji, adakah hati merasa kasih sayang, hukuman dan didikan ALLAH. Mahabbah adalah cinta agung yang terlakar hanya dalam hati hamba-hambaNYA yang beriman. Kita merasa sedih ditinggalkan teman, merasa sedih ditinggalkan suami - adakah kita merasa sedih ditinggalkan ALLAH? Atau kita tak merasa pun kehadiran ALLAH...kerana ALLAH melupakan kita bilamana kita melupakan ALLAH :(

"...Dan orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah....” [Al-Baqarah: 165]

Demikianlah betapa tingginya nilai syahadah dalam kehidupan insan. Satu ketika dulu,  ketika kita masih di alam belajar atau setelah bekerja, kita mencari sinar hidayah, ALLAH telah memberinya. Kita kemudian berubah. Maka peliharalah, dalami ilmu untuk menambah keikhlasan melalui kehidupan. Setelah mendapat petunjuk ALLAH, jangan terleka dan hanyut. Jangan kita tertewas di pertengahan pengorbanan, istiqamahlah dalam kebaikan.

Moga ungkapan syahadah yang kita ungkap dan berusaha untuk hayati dalam segenap ruang kehidupan, memberi keselamatan yang tidak disangka di hari akhirat, bukan sahaja di dunia. Seperti yang diceritakan dalam sebuah hadis sahih, seseorang yang punya banyak dosa dalam buku amalannya, timbangan kebaikannya menjadi berat dengan adanya kalimah syahadah yang dilafaz setulus hati. Pastinya bukan lagi lafaz kosong seperti sewaktu kita sekolah darjah satu, jadikan ia lafaz bermakna di buktikan amal myata -  yang memandu diri kita bahagia di dunia hingga ke akhirat sana insyaALLAH.








Comments

Popular posts from this blog

Menjadi isteri kedua

Ketika suami menikah lagi...

Suami Isteri: Berbaloikah Perhubungan Jarak Jauh?

Poligami: Bersedia Hadapi Ombak Perasaan

Pengalaman Sebagai Pembantu Di Klinik