Skip to main content

Perkahwinan: Apa yang akan saya beri?



Perkahwinan bukan pil ajaib yang boleh hilangkan keserabutan hati dan hidup.

Hidup akan berubah jika kita berubah dari kejahilan kepada cahaya ilmu, dari kekurangan kepada menggilap bermacam kemahiran, dari ikut rasa hati kepada lebih matang iman mengawal emosi.

Bertanyalah berkali-kali kepada diri, apa yang akan ku beri pada rumahtangga yang dibina ini..?

Apakah yang akan saya beri pada pernikahan ini...?

Apakah yang kalian mahu beri pada pasangan dan pernikahan selain halal bersentuhan...?

Adakah yang dibayang sekadar hingga akad nikah dan ciuman pertama di dahi..atau sehingga anak-anak yang menangis menuntut tanggungjawab di sekeliling diri..?

_______________

Dua tahun yang lalu, dia 'putus cinta' hingga sakit yang amat, merana, merasa hilang seri kehidupan. Dia bangun mencari semula kekuatan, kemudian bertemu seorang lelaki yang nekad diterima sebagai suami - merasakan suami itu bukan saja mampu memberi kekuatan kepada dirinya tapi mampu merapatkan hubungannya yang renggang dengan ibubapa sendiri. Dia berkahwin dengan harapan hilanglah kesakitan dan keserabutan yang dialami.

Namun rupanya hati lagi pedih dan merasa kehidupan makin tak tenang - setelah kahwin suami sering outstation, dia sendiri sibuk bekerja, kurang kemesraan suami isteri yang dulu diimpikan, apatah lagi nak balik kampung jumpa mak ayah selalu, duit yang dulu dirasa bukan halangan kini menjadi isu yang merenggangkan perasaan dengan pasangan, tinggal pula bersama keluarga mertua yang dikata sering juga menjadi punca pergaduhan dengan suami.

Kebahagiaan pernikahan yang didamba seolah ilusi yang tak mampu tersentuh.

Langkah terasa berat, hidup terasa hambar - apatah lagi menatap gambar gambar kaku ceria famili pasangan muda yang lain di fb, di skrin komputer. Tika pasangan lain dirasa gembira menanti kelahiran anak pertama, dia merasa hati berpasir duka lara dengan anak yang dikandung.

Ini salah satu kisah pasangan pengantin baru yang satu ketika dulu berjuang untuk bernikah. Tika itu keazaman dan dorongan yang kuat kerana berharap ketenangan hidup yang hadir setelah bernikah.

Setelah aku terima nikahnya....?

Di mana ketenangan...? Di mana kebahagiaan..?

_______________

"...Marriage is not the solution to your own deficiencies, nor will it be the solution to all your life problems. Work to develop your own self without expecting marriage to somehow mystically change your life. Marriage can be a great source of support and encouragement for self-improvement, but if we are not personally working on ourselves now, how can we expect that it will be easier with the additional baggage of another individual who is also imperfect?"




Comments

Cik Nadz said…
Agreed! Thanks for opening my eyes on the marriage and responsibilities that come with it.
Anonymous said…
Mohon share ye. Thanks nurul.
Anonymous said…
I've feel the same way. Sebelum ni hanya indah2. Tapi bila dah ada anak pertama, belum masuk ulangtahun kedua kami dah rasa nak bercerai. Tapi kami bertahan hanya sebab anak. Hubungan kami hnya pada title. Org nampak kami suami isteri tp hakikatnya kami masing2 dah terpisah.

Popular posts from this blog

Menjadi isteri kedua

Ketika suami menikah lagi...

Pengalaman Sebagai Pembantu Di Klinik

Suami Isteri: Berbaloikah Perhubungan Jarak Jauh?

Poligami: Bersedia Hadapi Ombak Perasaan