Tuesday, April 30, 2013

Pesta Buku: Maju dan Bahagia dengan Buku insyaALLAH


Alhamdulillah pagi Selasa semalam berkesempatan ke Pesta Buku 2013 di PWTC.

Kali ini saya memang merancang untuk tak bawa Abdullah sebab Abdullah akan buat mama exercise kejar dia di pesta buku. Tambah pula, lebih risau Abdullah hilang dalam keramaian.

Sampai pukul 10.30 pagi, cepat dapat parking dan dekat pula - saya terus membeli tiga buku di booth level 4 dengan harga menarik - semuanya buku cerita untuk Abdullah...untuk mama hanya sebuah buku mama beli.

Sebab mama dah dapat pesanan, buku kat rumah banyak lagi belum baca...:D

Jadi mama menahan diri untuk shopping buku mama..mama minat nak beli buku Aroma Antara Benua tulisan Puan Roza Roslan - tapi itu sebagai reward - kalau nanti mama berjaya habiskan baca dan kaji buku parenting dua buah bertajuk Raise Your Child and Peaceful Parent.

Dua jam setengah mama di PWTC, bila dah selesai shopping , kaki pun dah lenguh berjalan dengan Adik Abdullah..mama pun bergerak pulang..terima kasih Allah permudahkan.
Terima kasih sahabat mama yang bagi tips suruh bawa air kosong, snek dan duit (yang banyak!!)... Mama bersyukur bawa duit sikit huu dan bersyukur tak lebih bajet sebab selalu terlebih bajet kalau shopping..

:O

Kali ini mama tak masuk dewan jualan Karangkraf..tak larat..

Antara penerbitan menjadi pilihan mama ialah Darul Andalus, mama beli satu set buku cerita abdullah-  BM BI ARAB berharga RM 40 satu set..

Seronok dan teruja juga nampak ensiklopedia Quran dan Sains untuk children..tapi terfikir dari keluarkan beratus ringgit insyaAllah abdullah boleh ajak mama untuk baca ensiklopedia yang banyak jenis di library baru canggih shah alam..library hadiah dan idea sultan bernilai lebih kurang 70 juta..jom kita manfaatkan ya...

:)

Syukur yang tak terhingga pada Allah..Allah izin pesta buku boleh dijalankan, Allah bagi kesihatan dan kelapangan rezeki untuk kita pergi membeli..

Yang tak ada masa atau tak ada extra duit untuk ke Pesta Buku..tak apa, cari sumber bahan bacaan dari internet atau library untuk anak..kalau kita bersungguh nak jadi hamba berilmu di jalan Allah, Allah pasti bantu kita atas niat dan usaha kita...

Kalau nak datang rumah Abdullah baca buku pun boleh :D jemputlah...


Monday, April 29, 2013

7 Ways To Help Your Child Adjust To A New Baby


Dear Susan,
 
My husband and I just had a baby boy, and our 4-year-old daughter is not adjusting well. She was happy that she was finally going to have a brother, but now she shows very little interest in him. She has been having tantrums, and tells me that she hates the new baby. I have reminded her that she wanted to be a big sister -- but it isn't helping. What can I do?

Signed,
Confused Mother of Two



________




Dear Confused Mother of Two,

You have probably heard this before, but just in case, here is an analogy that may help you understand what your daughter is going through. Imagine your husband coming home one day with another wife, lovingly draping his arm around her while telling you with great enthusiasm that this new wife will only add to the love and joy in your family. Chances are, you wouldn't buy it. That was your husband, and you have no interest in sharing him.


Your newborn -- however precious -- occupies a lot of your time and attention. Right now your daughter is going through a significant loss; she needs time and help to come to terms with the sudden competition she has for access to you. Here's what I suggest.

1. Be willing to hear her unhappy feelings. "I understand it's hard, sweetheart." "You wanted time with Mommy all by yourself." "When the baby is fussy, he makes a lot of noise." Don't sugarcoat how life has changed in your household; if you acknowledge the hard parts, she won't have to bury or repress her frustration, which is what is fueling her misbehavior.

2. Emphasize what hasn't changed. A child's world is full of new experiences; the arrival of a new sibling is one of the biggest ones, but every day, children encounter things they don't understand or have never been through. Read your daughter her favorite book, sing your special song, and try to stick to whatever rituals you can as you navigate your own enormous adjustments (not to mention fatigue!).

3. Don't try to push your daughter to cozy up to her brother. The less insistent you are that she fuss over him or act like a "good big sister," the more room she'll have to naturally fall in love with him.

4. Offer her the chance to be alone with you and her daddy -- together, and one-on-one. Take her for a short walk or an errand without the baby so she remembers that she's still your special girl.

5. Help her discover the benefits of being a big sister. While in theory your daughter might have been excited about the baby, she may find that having a younger sibling isn't turning out to be quite as much fun as she imagined. Avoid telling her she needs to act her age or be a good role model for her little brother. Instead, tell others (within your daughter's earshot) how helpful she was if she carried your diaper bag or handed you the baby powder, and how lucky her brother is to have her in his life.

6. If your daughter has a favorite friend, relative, or grandparent, enlist their support in offering her some extra time or special attention.

7. Encourage her tears. Your daughter may end up having a meltdown over something seemingly minor, like getting a red cup instead of a blue one. Rather than trying to explain why it doesn't matter, use emotionally-charged moments to help her express the big feelings that have been activated by the arrival of her baby brother. Regardless of why she's crying, having the chance to cry -- and be comforted by you -- will help her adjust.


Above all, be patient, and allow your daughter the time and loving support she needs to manage the many emotions that come with adjusting to the change in your family. As she discovers that her feelings can be tenderly accepted and understood, she'll be able to recognize the sweetness and joy that have come with the arrival of her new sibling.

Yours in parenting support,
Susan

Parent Coach, Susan Stiffelman, is a licensed marriage and family therapist and credentialed teacher. She holds a Bachelor of Arts in developmental psychology and a Master of Arts in clinical psychology. Her book, Parenting Without Power Struggles, is available on Amazon. Sign up to get Susan's free parenting newsletter.


Sumber:  http://www.huffingtonpost.com/2012/08/29/7-ways-to-help-your-child_n_1827506.html







Saturday, April 27, 2013

Nak kahwin...? Kahwinlah.





Seorang gadis remaja berkongsi, si teman lelaki nya bercadang untuk bernikah awal ketika masih belajar di kampus.

Saya kata, kahwinlah. Buat persediaan.

Belajar bertanggungjawab. Belajar jadi matang. Lobi mak ayah dengan akhlak baik, bangun tidur awal, belajar buat kerja-kerja rumah, studi rerajin bagi result bagus, kenali fokus hidup dan matlamat cinta yang sebenar.

Belajar dari orang lain yang ramai kahwin masa belajar, buka mata melihat realiti kehidupan, belajar jadi isteri yang supportive, tengok di Youtube kupasan Semanis Kurma tentang Kahwin Muda atau Belajar, misalnya...dan kaji  lain lain bahan ilmu tentang pernikahan.

Kahwin dan studi- ia boleh berjalan seiring, dengan ilmu, persediaan, dan sokongan ibu bapa terutamanya ♥

Memanglah susah kahwin muda tapi dalam dunia ini mana ada yang senang.. ramai orang hidup tak bahagia kerana menyangka dunia adalah tempat bersenang lenang tanpa lapisan kepayahan . (aishhh..kahwin waktu dah 'dewasa' dan berusia ideal kononnya pun, tak lah mudah ..)


Saya kongsikan sekali lagi di bawah ini coretan dalam salah satu entri saya berapa ketika dulu - skrip hidup yang dilalui kebanyakan kita :O

_________
 

Dulu masa SPM kita berjuang habis-habisan untuk dapat banyak 'A' supaya boleh masuk U. Tapi bila masuk U kita merungut dan mengeluh dengan assignment yang banyak, kita pun selalu tak cukup duit.
Jadi kita rasa tak sabar nak masuk alam bekerja, seronoknya nanti dapat duit, tak payah nak stress macam zaman belajar. Rupanya bila masuk kerja lagi dasyhat, lagi stress - keluar 7 pagi hingga 7 malam, bukan macam di U yang kadang boleh cancel class. Boleh tidur sampai tengahari. Yang kadang boleh extend assignment. Dah kerja, stress dengan boss dan client. Sibuk dan stress. Takde life :O

Bosan.Penat. Sunyi.

Ohhh...teringinnyaaaaa nak kahwin. Nanti adalah isteri untuk masakkan yang enak. Bosan makan nasi bungkus kat cafe ofis. Rumah berselerak ini pun adalah orang tolong kemaskan nanti. Ada lah khidmat urut halal dan manjakan. Adalah sang bidadari untuk berkongsi hati, mendengar keluhan dan segala macam stress. Opps ini versi lelaki.

Versi isteri... Ohh teringin nak kahwin. Balik kerja senja-senja rasa sunyi... Rumah senyap suram. Housemate busy dengan hal masing-masing. Kalau ada suami, boleh ajak suami dinner kat luar, jalan-jalan, shopping, semua suami yang belanja :D Nanti penat boleh suami mendengar keluhan dan tekanan.. Suami boleh tolong urutkan badan... Nanti suami jadi imamku dan bagi tazkirah lemah lembut macam Ustaz XXXX kat TV tu...

Maka lelaki dan perempuan pun berjuang untuk bernikah. Cari pasangan. Kumpul duit. Buat loan peribadi puluh ribu. Minta diskaun hantaran. Tangguh nikah. Pujuk mak ayah nak cepat nikah.

Bila dah kahwin..... aaaaaaaaaaaaaa!!!


Selepas habis tunjuk beratus-ratus gambar akad nikah dan majlis resepsi kepada teman-teman - datanglah rutin kehidupan. Muka stress suami jumpa muka stress isteri. Banyak kerja. Sibuk penat. Tak ada masa nak layan kerenah awak, Saya pun letih. Saya pun lama jam kat highway tanpa roti. Gaji saya pun setiap bulan asyik tak cukup. Hutang kita kahwin pun tak habis lagi. Saya bosan dengan rungutan awak. Saya penat dengan leteran dan rajuk awak. Saya sorang jaga anak dan buat kerja rumah. Silih berganti keluhan dan rungutan suami isteri. Dilepaskan atau dipendam di hati.

Dua tahun berikutnya:

Yang isteri, "Prof Muhaya, suami saya kan macam gini. macam gitu...bla...bla... suami saya buat saya stress! Dah dua tahun saya sabar dengan dia!"

Yang suami, " Ohh... gadis kat department sebelah nampak teduh, ayu, sejuk mata memandang, sopan santun, ceria..(dan segala bagai ciri bidadari dunia). Isteri aku kat rumah muka masam, muncung panjang, suka merungut, sibuk dengan anak je" ...

Maka apa kesudahan cerita ini....?? :D

___________

Sesungguhnya kekuatan hati dan iman, jauh lebih hebat dari kekuatan fizikal... berusahalah mencari kebahagiaan kehidupan dunia dan binalah taqwa.
Yang dengan taqwa ini, di dunia akan selalu mendapat pertolongan dan jalan keluar dariNYA. Diberi rezeki yang tak disangka berupa harta, makan minum, ilmu, hidayah, akhlak, pasangan yang baik... Di akhirat, taqwa akan dianugerahkan syurga...

Cinta dan kebahagiaan berumahtangga dijamin ALLAH pada pasangan yang saling menunaikan kewajipan dengan taqwa ♥

^_^

Wednesday, April 24, 2013

The Key To Your Child's Heart (7 Way It works)

Kalau saya happy duduk lama lama bawah meja mama, acknowledge perasaan saya dulu , kemudian barulah bawa saya ke tempat lain ok :)

Write this word on your hand. It’s a magical way to connect with a child of any age, can ease tears and tantrums and even prevent them.  It’s a simple but surprisingly challenging thing to do, particularly tough to remember in the heat the moment…
Acknowledge.

Before you tell your child that it’s time to leave the park, or remind him that the really cool truck he’s examining has to stay at the store, acknowledge his point of view. Acknowledge your child’s feelings and wishes, even if they seem ridiculous, irrational, self-centered or wrong. This is not the same as agreeing, and is definitely not indulgent or allowing an undesirable behavior.

Acknowledgement isn’t condoning our child’s actions; it’s validating the feelings behind them. It’s a simple, profound way to reflect our child’s experience and inner self. It demonstrates our understanding and acceptance. It sends a powerful, affirming message… Every thought, desire, feeling — every expression of your mind, body and heart — is perfectly acceptable, appropriate and lovable.

Acknowledging is simple, but it isn’t easy. It’s counter-intuitive for most of us, even when we’ve done it thousands of times. Won’t acknowledging our child’s wishes make matters worse? Won’t saying “I know how much you want an ice cream cone like the one your friend has and it does look yummy, but we won’t be having dessert until later” make our toddler hold on to the idea longer, cry harder? Wouldn’t it be better to dismiss or downplay the child’s feelings, distract, redirect or say:”Oh, sweetie, not now”?

Our fears about an honest acknowledgement of the situation “making things worse” are almost always unfounded. Feeling heard and understood allows children to release the feelings, let go and move on. Here are more reasons that acknowledging our child’s truth is worth the conscious effort it takes…

1. Acknowledging can stop tears and tantrums in their tracks.

I have witnessed this many, many times. Whether a child is upset about an injury, a disagreement with another child or anger over a conflict with a parent, acknowledging to the child what happened or that he is hurt, frustrated or angry can miraculously ease the pain. Feeling understood is a powerful thing.

Kalau saya nampak sedih dan muram.. cuba selami hati saya..jangan nafikan kesedihan saya..bantu saya faham perasaan saya sendiri :)


2. Acknowledging, instead of judging or “fixing”, fosters trust and encourages children to keep sharing their feelings.

Parents and caregivers have an enormous influence, and their responses have an impact on young children. If, for example, we try to calm children by assuring them that there’s no need to be upset or worried about something that’s troubling them, they may become less inclined to express their feelings. If our goal is our child’s emotional health and keeping the door of communication open – just acknowledging is the best policy. “Daddy left and you are sad.”

I was reminded of this recently when one of my teenage daughters shared her anger and heartbreak over a long time best friend’s lies and betrayal. How hard it was not tell her that this friend is flawed and that my daughter deserves so much better!  How hard it was to just listen and acknowledge the hurt and disappointment. As painful as this experience was for me, I treasure it, because my daughter trusted me with her innermost feelings. I’ll do all in my power to encourage her to share with me again. (My daughter ended up resuming her relationship with her long adored friend, having noted her limitations, and I was so glad I held my tongue.)

3. Acknowledging informs, encourages language development and emotional intelligence. 

Children gain clarity about their feelings and desires when we verbally reflect them. But don’t state the feeling unless you’re sure. It’s safer to use the words “upset” or “bothered” rather than jumping to “scared”, “angry”, etc. When in doubt, you might ask, “Did it make you mad when Joey wouldn’t let you use his blocks?” “Did the dog’s bark frighten you or just surprise you?”

An added benefit: talking to babies, toddlers, children of all ages about these “real things” happening to them is the most powerful, meaningful and natural way for them to learn language.

4. Acknowledging illuminates, helps us understand and empathize.

To state our child’s point of view, we have to first see it, so acknowledging helps to give us clarity.  When we say, “You want me to keep playing this fun game with you, but I’m too tired”, we are encouraged to empathize with our child’s point-of-view (and he ours).

Acknowledging the situation and asking questions (especially when we don’t know the reason our child is upset) can help us to unravel the mystery. “You’re upset and look uncomfortable. You just ate, your diaper is dry. Maybe you need to burp? Okay, I’m going to pick you up.”

5. Acknowledging struggles might be all the encouragement your child needs to carry on.

This is another scenario in which a simple acknowledgement can work like magic. Rather than saying, “you can do it!”, which can create pressure and set the child up to believe he disappoints us, try saying, “You are working very hard, and you’re making progress. That is tough to do. It’s frustrating, isn’t it?”

6. Acknowledgements instead of praise help children stay inner-directed.

This is as simple as containing our impulse to cheer loudly or say “good job!”, and instead smiling and reflecting, “You pulled the plastic beads apart. That was really hard.”

“Let your child’s inner joy be self-motivating. You can smile and express your genuine feelings but should refrain from giving excessive compliments, clapping your hands, and making a big fuss. If you do this, your child starts seeking satisfaction from external sources. She can get hooked on praise, becoming a performer seeking applause instead of an explorer. Praise also disrupts and interrupts a child’s learning process. She stops what she’s doing and focuses on you, sometimes not returning to the activity.” –Magda Gerber, Your Self-Confident Baby

Terima kasih memahami, menyayangi, mendorong, menerima, menyokong dan memuji saya dengan CARA YANG BETUL :)


7. Acknowledging proves that we are paying attention, makes a child feel understood, accepted, deeply loved and supported.

Could there be any better reason to give it a try?

“People will forget what you said; People will forget what you did.
But people will never forget how you made them feel.”
-Maya Angelou

“We all need someone who understands.” –Magda Gerber




:)



 Sumber: http://www.janetlansbury.com/2011/11/the-key-to-your-childs-heart-7-ways-it-works/


Sunday, April 21, 2013

Poligami: Berniat dan berbuat yang baik-baik


 Sibuk nak mengundi pun, Beri laluan pada topik poligami ya :) perkongsian semula. Moga bermanfaat.

*****

Saya rasa, memang sebenarnya apabila seorang suami ingin bernikah lagi, sebahagian besar mereka benar-benar ada keinginan dan niat yang baik. Mereka mahu bernikah lagi dan mereka tetap mengasihi isteri yang sedia ada. Mereka tak mahu menyedihkan isteri, mereka sangat sayang kepada teman hidup yang telah lama menemani susah senang kehidupan. Bernikah lagi, bukkan beerti ingin membuang atau tak sayang isteri yang ada. Tidak sama sekali.

Mereka sayang keluarga sedia ada, malah sangat menghargai anak-anak dan ibu kepada anak-anak mereka - kerana kalian isteri dan anak-anak adalah sumber kebahagiaan utama mereka, tidak perkara lain.

Bila mereka mula terdetik dan terasa, memikir dan mempertimbangkan untuk bernikah lagi, mereka ingin lakukan dengan cara terbaik. Ingin tetap menjaga perasaan isteri, ingin memelihara kebahagiaan yang ada, ingin berlaku adil kepada wanita wanita yang mereka nikahi - ingin membahagiakan isteri sedia ada dan bakal wanita yang dinikahi.

Para suami yang baik ini berhati hati ingin bercakap tentang poligami, mereka tahu ia sensitif dan tidak digemari isteri, mengharap respon bertenang dan terbuka dari isteri walau sedikit.

Malah para suami sebenarnya sangat perlu cadangan dan dorongan dari isteri sedia ada agar mereka dapat membangun poligami yang baik untuk para isteri dan anak-anak. Perlu teguran dan kritikan membina bagaimana untuk mengurus dua keluarga.

Suami pun berfikir, ' Bagaimana untuk kita saling bahagia sekalipun monogami bertukar menjadi poligami..bagaimana untuk kita suami isteri dan anak-anak tetap saling hormat saling cinta dan takkan kehilangan ibu ayah sekalipun poligami...?' Inilah jiwa sebenar seorang lelaki bernama suami yang ingin bernikah lagi...

Jika para suami ingin bernikah kerana ada kecendurungan sexual sekalipun, tidakkah itu jalan yang mulia memilih pernikahan untuk menyalurkan keinginan...?

Namun, lantaran isteri memberi respon negatif, isteri menentang dengan pelbagai ugutan, isteri berubah sikap dan layanan menjadi buruk - suami pun tegar memilih untuk kahwin secara sembunyi, dengan alasan tidak mahu menyakiti hati isteri, tidak mahu memporak perandakan keluarga sedia ada - sedangkan itu adalah perhitungan yang salah membawa akibat lebih buruk.

Betul sekali, suami sayang isteri pertama, tidak mahu menyakitinya, namun pada seorang isteri, merupakan pengkhianatan yang lebih besar apabila suami bernikah secara sembunyi...

Bila mula bercakap topik poligami kepada isteri, berilah masa untuk mereka menghadam keinginan suami. Sedih, merajuk, adalah perkara yang dijangka. Jangan disangka isteri akan menyambut dengan ceria dan gembira... Bulan-bulan, setahun dua isteri akan perlahan-lahan mempersiapkan diri.

Doakan isteri diberi kesabaran, suami tetaplah menunjukkan cinta kasih pada isteri, dan terus melaksanakan tanggungjawab dalam menasihati dengan hikmah. Situasi rumahtangga menjadi lain bila suami bersungguh ingin poligami, perasaan wanita rasa bercampur baur ibarat dimasukkan ke dalam mesin pengisar kerana mainan syaitan, begitu juga perasaan suami yang serba salah antara hak, keinginan, keperluan dan respon isteri sedia ada.

Tetaplah berkasih sayang sekalipun ujian poligami mula mendatangi. Dia tetap isterimu, dia tetap suamimu. Satu tika dulu, berjanji menikah kerana ALLAH, kini ujian yang datang juga dari ALLAH. Berbahagialah mereka yang berusaha, bermusyawarah dan kembali kepada ALLAH.


___________________

Love, nurul




Saturday, April 20, 2013

Ilmu Psikologi menjemput cinta..!


 Saya ingin berkongsi sedikit tulisan sahabat saya Ummu Abdillah Ili Dalila tentang psikologi anak-anak:


"Memahami perkembangan kanak-kanak dari sudut saintifik sangat-sangat membantu ibubapa untuk berinteraksi dan memberi reaksi yang lebih baik terhadap anak-anak dan lebih menghormati mereka sebagai manusia ciptaan Allah yang punya perasaan.




Sebagai contoh :




- kenapa anak menjerit dan memukul apabila marah (tantrum)?


- kenapa anak merampas sesuatu barang yang dia ingini dari tangan orang / kanak-kanak lain?


- kenapa anak yang diberi kertas besar yang dilekat di atas lantai untuk painting, akan cat keluar dari border kertas lantas mengotorkan lantai?


- kenapa anak tidak mahu berkongsi?


- kenapa anak tak mahu kemas semula permainan selepas 'menyepahkannya'?




Banyak benda yang kita tak suka anak-anak buat tapi pernah tak kita tahu kenapa mereka buat begitu? akhirnya kita membuat kesimpulan anak kita bermasalah, nakal dan tak mahu mendengar kata."



Ilmu psikologi sangat-sangat bermanfaat.




Menyeru diri saya dan sahabat sahabat semua;




Dari masa dan energi banyak terbuang kerana asyik meluah rasa tidak puas hati dan geram dengan tingkahlaku anak, pasangan, mertua, mak ayah, boss, pekerja dan sesiapa lagi - manfaatkan masa dan energi untuk belajar ilmu psikologi atau mendalami tentang tingkahlaku manusia.


Ia akan sangat membantu dalam interaksi kita agar kita matang dan sensitif dengan perasaan mertua sekalipun kita masih belum tua atau belum punya menantu.


Ia bantu kita lebih harmoni hidup berpasangan.
 



Ia membantu kita menjadi ibu ayah yang lebih baik sebagai pemimpin, pengasuh dan penebar kasih sayang buat anak-anak dalam membesar dengan peribadi yang sihat.


Ia membantu kita untuk menghormati dan berbakti kepada orang tua kita kerana mengerti perasaan mereka sekalipun kita belum menjadi ibu ayah.
 



Ia membantu kita untuk menjadi orang bawahan dan orang atasan yang bertimbang rasa dan disayangi.




Mudah-mudahan kita lebih empati dalam interaksi dengan orang lain, dan lebih mudah difahami dan memahami.




____________________





Wednesday, April 17, 2013

Poligami, Politik, Pembahagian Tuhan



Politik Tempat Kerja

Saya baru membaca artikel tentang kisah politik tempat kerja, tentang situasi gosip dan umpatan yang menjadi santapan harian, tentang fitnah dan surat layang yang memanaskan keadaan.

Kerana saling berebut jawatan yang lebih tinggi, kerana dengki dan iri hati.

Kalau kita merasa dah berusaha yang terbaik, kenapa perlu dengki dengan rezeki dan kurnia Allah pada rakan sekerja..? Allah sesungguhnya memberi rezeki dengan tepat dan bijaksana... jika mereka mendapat jawatan rebutan itu dengan cara kotor sekalipun, mereka tidak akan kekal lama di situ, yang pasti azab ALLAh menanti mereka yang tidak amanah dengan jawatan.

Sesungguhnya jawatan itu adalah sesuatu yang berat, akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah..maka kita doakan sahabat yang diberi jawatan itu melaksanakan tanggungjawabnya dengan ihsan dan ikhlas.

Poligami 
 
Hal itu juga mengingatkan saya kepada luahan dan pertanyaan beberapa isteri, bahawa kalau suami mereka berkahwin lagi - tidak adil lah isteri yang baru/ isteri kedua itu dapat kesenangan suami dengan mudah, sedangkan mereka isteri pertama bergelut dengan zaman suami tak cukup duit masa ekonomi tak stabil.. tup tap suami nak kahwin lagi bila dah senang..

*jadi macam mana*

Boleh tak kita fikir macam ni, bahawa sesungguhnya kesenangan yang isteri kedua itu perolehi adalah rezekinya yang ditentukan Allah. Suami kita hanya wasilah untuk kita dan madu madu kita mendapat kurnia dan rezeki Allah yang luas...

Jadi insyaAllah kita mampu memadamkan bisikan hati yang mempertikai rezeki dari Ilahi, jua moga mampu menghindar rasa dengki dan iri..

Dan seterusnya, bukankah ia juga sangat mulia jika kita meletakkan di minda dan hati, bahawa kita juga mencintai untuk saudara kita , apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri...? Jika kita suka diberi kesenangan dan kemudahan, kita suka juga madu kita diberi kesenangan..boleh...?

Demikianlah tazkeerah untuk saya dan kita semua ♥

(Waktu suami kita ekonomi meleset, tak stabil, memang amat sukar untuk terima hakikat suami berhajat menikah lagi. Bila suami dah senang dan stabil, ada juga ujian hati untuk kita kan... sesungguhnya kehidupan adalah ujian - melihatnya dari neraca tuhan - hati kan lapang dan tenang insyaAllah.)

Pembahagian Tuhan

 Surah Az Zukhruf ayat 32: “Apakah mereka yang membahagikan RAHMAT TUHANMU? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah MENINGGIKAN sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa darjat, agar sebahagian mereka dapat memanfaatkan sebahagian yang lain. Dan RAHMAT TUHANMU lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."

Sesungguhnya pemberian dan pembahagian Tuhan yang paling besar adalah nikmat islam dan iman. Ayuh kita suburkan pohon iman di hati, agar kehadiran kita di dunia ini mampu memberi teduhan iman kepada kehidupan orang lain.

Ayuh saya dan kita bersemangat memperbaiki ekonomi, moga kita dapat menyumbang dan bermanfaat dari segi ekonomi kepada insan-insan lain yang teruji.


Love,
Nurul





Tuesday, April 16, 2013

Nobody can make you happy...?

 
 
You can't make anyone love you and nobody can make you happy. Whew, is that ever hard to buy. I can already hear the screams of protest: "What do you mean you can't get anyone to love you? What a depressing thought! You mean there's nothing I can do to get my wife to love me? What are you saying? There's no love in a marriage? If so, why get involved with someone if they can't make you happy! Why are you telling us this depressing garbage?"
 
Well, the truth of the matter is, it's not depressing; it's liberating! Here's how:
 
First of all, we've all been hypnotized into believing that our true love will heal all hurts. All we need to do is find our handsome and brave Prince Charming or our beautiful and compassionate Snow White and magically all pain will disappear. Our perfect love will know how to give to us unconditionally; will be devoted to making us happy and will anticipate and meet every one of our needs and wants. Our perfect love will heal all our hurts and will be infinitely patient with every one of our shortcomings. This compassionate and giving spirit will have one goal in life: To give endlessly to make us gloriously happy.
 
If there is anyone among us who has such a partner, please post it on our bulletin board. It's more rare than a snow leopard. The statistical probability of finding such a pure soul is about the same as a forty-two year old couch potato quarterback being drafted by the Dallas Cowboys. Sorry, but life just ain't like the movies. Your average hooker doesn't marry a billionaire Richard Gere look alike.
 
So here we are. We find what we think is our best chance for marital bliss and in the end our partner just doesn't deliver the goods. Here's the problem. We both think: It's my partner's job to make me happy. What results is a battle between two unhappy individuals, each of whom believes that his or her needs are more important that the other's. So while he is worrying about getting his needs met and she's worrying about getting hers met, no one gets any needs met. Sorry, a relationship is not about getting someone to love you.
 
John Kennedy said it perfectly, "Ask not what your country can do for you. Ask what you can do for your country." I don't know if President Kennedy was aware just how revolutionary that statement was. It in essence said, Don't focus on your rights. Rather, focus on your obligations. Don't be a taker. Be a giver. The country's strength is based on the willingness of its citizens to give of themselves for the common good. A rather strange idea in this age of Me, Mine and I.
 
What Kennedy said about the country can also be said about marriage. Ask not what your partner must do for you. Ask what you can do for your partner. I'll let you in on an interesting marital secret and truth. The foundation of a relationship is giving. To create a successful, loving relationship we need to be guided constantly by the question, What do I need to do in order to create a loving relationship?
 
By letting your spouse's needs be at least as important as your own, you'll begin to develop true love. I'm not suggesting you make this shift so you can use it as a manipulative technique to get your partner to love you. What I am saying is that it's natural to give to one who gives. It's easy to love someone who loves.
 
I'll finish with this suggestion: For one week focus your attention on giving to your partner. If you don't know what your spouse needs, ask. Try to think about what you can do that your spouse will most appreciate and then do it. Notice how he or she responds. Tell us about it.
 
 
copy & paste :)
 
 
 

Sunday, April 7, 2013

Kematian, ada di mana-mana.

 



Bersembang dengan mak lama lama di kampung kali ini, banyak khabar kematian, perceraian, sakit , pergaduhan, penyambungan silaturahim orang yang dah gaduh lama lama tidak bertegur sapa..

Cerita mak agak menyentap hati saya, kerana ada orang yang saya tak sangka, telah pergi meninggal dunia..

Kita selalu sangka kita hidup lama kan.. macamlah kita dah sign kontrak dengan Allah, yang kita akan hidup setahun lagi..atau sepuluh tahun lagi.. ^_^

Bercerai, bergaduh, bermusuh, berbaik, berkahwin lagi - tiada siapa antara kita dapat meneka episod hidupnya yang bakal tiba.

Di pihak kita - buat yang terbaik, berdoa dan tawakkal kepada Allah.


Firman Allah SWT maksudnya :

"Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat, dan Dia yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakan esok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal." (Surah Luqman ayat 34)







Wednesday, April 3, 2013

Poligami dan Tahajud Cinta

 
 
Poligami datang lagi.

Dari pemerhatian saya berdasarkan perkongsian sahabat-sahabat dan teman pembaca bergelar suami dan isteri, ujian poligami datang menerpa tanpa diduga pada tahap usia perkahwinan yang berbeza-beza.

Malah ada yang dari sebelum bernikah, diuji dengan poligami - bakal suami/isteri menyuarakan tentang poligami.

Ada yang suami mahu berkahwin lagi setelah dua tiga tahun bernikah....

Ada yang setelah lima tahun.

Ada yang setelah sepuluh tahun.

Ada yang bergegar rumahtangga kerana salam poligami meyapa rumahtangga setelah lebih 20 tahun hidup bahagia sebagai suami isteri..

Pada pandangan saya, pada semua yang terlibat, suami, isteri dan bakal isteri - ini adalah ujian ALLAH yang datang ke perjalanan hidup kalian. Atas sebab yang berbeza-berbeza.
 
"Allah SWT turun ke langit dunia ketika 1/3 malam masih tersisa dan Allah menyeru: “Adakah antara hambaKu yang berdoa kepadaKu, supaya aku mengabulkan permintaannya? Adakah antara hambaKu yang meminta ampun kepadaKu, supaya Aku mengampuninya? Adakah antara hambaKu yang meminta kepadaKu, supaya Aku memenuhinya?" (Hadis Bukhari dan Muslim)


Pada suami, manfaatkan ruang dan cabaran poligami ini untuk mendekatkan diri kepada ALLAH. Banyakkan berdoa kepada ALLAH dan mungkin inilah saatnya untuk kita mengenal ALLAH melalui solat di sepertiga malam.

Pada isteri, mungkin ia sekadar rasa terhiris,mungkin juga ada perasaan yang begitu luka tertusuk dalam, ada isteri yang merasa dihempap batu besar ke atas kepala... manfaatkanlah cabaran ini juga untuk mendekatkan diri kepada ALLAH. Banyakkan berdoa kepada ALLAH dan mungkin inilah ruang untuk ALLAH membawa kita makin dekat pada Tuhan yang maha menguasai kehidupan. Mungkin ini juga permulaan tahajud cinta kita dengan ALLAH. Tidak ada solat yang lebih utama dari solat malam.

Pada gadis yang bakal bermadu, juga tidak ada pilihan lain melainkan mendekatkan diri kepada ALLAH, belajar erti hidup di atas syariat Islam. Bukan bernikah semata kerana rasa cinta menggebu kepada suami orang. Jika jahil mengurus akal dan emosi dalam acuan islam, kita sebenarnya sedang bersiap sedia untuk meruntuhkan rumahtangga sendiri dan menyumbang kepada runtuhnya rumahtangga madu yang telah dibina (mungkin, tak semestinya). 'Ketika cinta bertasbih' dan 'Sejadah cinta' bukan sekadar slogan novel dan drama - namun bersama kita jadikan ia rutin segenap harian..bertasbih dan suka bersujud kepada ALLAH..!
 
"Allah SWT turun ke langit dunia ketika 1/3 malam masih tersisa dan Allah menyeru: “Adakah antara hambaKu yang berdoa kepadaKu, supaya aku mengabulkan permintaannya? Adakah antara hambaKu yang meminta ampun kepadaKu, supaya Aku mengampuninya? Adakah antara hambaKu yang meminta kepadaKu, supaya Aku memenuhinya?" (Hadis Bukhari dan Muslim)
 
__________
 
Sekian, moga bermanfaat
 
 
 

Tuesday, April 2, 2013

Kampung kita bukan di sini.

Alhamdulillah syukur kepada ALLAH diizinkan saya dan Abdullah pulang ke kampung halaman tiga hari dua malam..lepas tu, rasa nak duduk lama-lama lagi :(
 
Alhamdulillah bila saya balik kampung, saya ada madu-madu untuk jaga keperluan suami saya, saya tak dapat bayangkan hidup saya tanpa  madu :D
 
Kenapa seronok balik kampung? Sebab itu tempat asal kita. Ada mak abah atau orang-orang yang kita rindu dan sayang..Di malaysia ini, kampung maksudnya kawasan yang damai dan hijau, macam kampung terpencil saya..rasa tenangggg sekali alhamdulillah..
 
Tapi,
 
setinggi mana pun rindu dan suka pada kampung, ini masih bukan kampung kita yang sebenar. Kita punya kampung sebenar adalah....________.
 
Ya ALLAH, kembalikan kami ke kampung halaman yang abadi, dengan jiwa yang tenang dan selamat kekal abadi, bersama semua yang kami sayang :'(
 
:: Abdullah sangat gembira di kebun Atok Denan ::






 
 







:: Alhamdulillah Abdullah dapat tengok sepasang angsa, sekawan lembu dan kambing..hee..::



:: Hari yang memenatkan bila Abdullah banyak belajar dan observe benda baru di kampung..walau hari-hari saya gaduh dengan hero saya ni, rasa sayang sekelumit pun tak berkurang..hebatnya kasih ibu yang ALLAH titipkan di jantung hati kita kan...^_^ cuba gaduh dengan suami haha.. eh sayang melangit jugak kan kat suami kan..;)))






 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...