Tuesday, February 16, 2010

Shibghatallah: Jatidiri Terbaik Seorang Muslim





SETIAP agama tatacara yang mengatur hidup ummatnya. Setiap ideologi pun mengajarkan hal-hal yang berbeda dalam memandang kehidupan ini, lalu mewujudkan sikap dan perilakunya masing-masing. Budaya dan peradaban manusia, mencerminkan nilai yang hidup dalam diri bangsa. Dan di antara sekian banyak tatanan nilai, cara pandang dalam melihat kehidupan, kerangka yang menyusun peradaban dan budaya manusia, maka Islam menjadi sumber nilai yang akan membentuk jatidiri kaum muslimin.



Jatidiri muslim, adalah nilai-nilai yang hidup dalam diri seorang muslim. Nilai-nilai ini akan membentuk identitas diri seorang muslim, sekaligus akan menjadi ciri beda dengan ummat lainnya. Perbedaan yang menampakkan keistimewaan dan keindahan diantara identitas ummat lain. Nilai ini, berasal dari apa yang Allah turunkan melalui RasulNya, yakni Islam. Islam lah yang mewarnai seluruh diri kaum muslimin. Islam adalah celupan istimewa yang diberikan Allah SWT bagi kaum muslimin.



Dalam salah satu ayatnya, Allah SWT berfirman: “Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepadaNyalah kami menyembah”. (QS. Al-Baqarah 138)



Celupan, begitulah Allah SWT mengistilahkan ajaran Islam dan keimanan seorang muslim. Celupan ini, akan mewarnai “kain” seorang muslim. Celupan ini akan meresap ke seluruh sendi-sendi, memasuki setiap serat-seratnya, lalu muncullah penampakkan yang indah, warna yang memikat serta corak yang istimewa. Begitulah gambaran seorang muslim yang telah ter-shibghah oleh shibghah Allah.



Shibghah ini adalah keimanan yang penuh atas seluruh ajaran, nilai dan ketetapan Allah SWT. Shibghah ini akan masuk meresap ke dalam diri seorang muslim, yang telah dengan kesadaran dan penuh pemahaman, menerima Islam.



Kesadaran dan pemahaman yang pertama adalah atas makna syahadatain (persaksiannya), yang akan melahirkan kecintaan kepada Allah SWT. Rasa cinta (mahabbah) inilah yang akan menumbuhkan keinginan yang kuat serta sikap menerima atas seluruh perintah Allah SWT. Sikap menerima seluruh ajaran Allah SWT, maka seorang muslim telah membuka diri sepenuhnya untuk menerima celupan Allah. Keterbukaan yang sempurna, menjadikan celupan yang utuh dan sempurna pula pada dirinya.



Celupan ini secara sempurna akan mewarnai seorang muslim. Warnanya akan mengikat erat pada seluruh serat dalam diri seorang muslim. Keindahannya pun akan tampil abadi dan cemerlang. Indah, tidak hanya pada penampakkannya. Keistimewaannya pun, tidak bisa disembunyikan. Celupan Allah, akan mewarnani sisi dalam (dakhiliyah) seorang muslim dan nampak pada sisi luarnya (khariziyah)nya.



Sisi dalam yang terwarnai dalam siri seorang muslim mencakup warna aqidahnya yang lurus dan shahih, jauh dari penyimpangan dan kesesatan. Aqidah para sahabat shalafus shalih. Warna pemikirannya (fikrah) pun akan mencerminkan wawasan dan cara pandang Islami, selalu merujuk kepada nilai-nilai Islam. Selera dan perasaannya (su’ur) pun fitrah rabbaniah, selalu cenderung pada nilai-nilai Rabbani, nilai-nilai Islam. Ini adalah sisi dalamnya.



Sedangkan sisi luarnya, akan nampak jelas pada seluruh sikap dan perilakunya. Celupan Allah akan menjadi warna istimewa yang menjadikan cirri khas seorang muslim (simat). Dari penampilannya, celupan ini akan mewarnai wajah seorang muslim dengan raut muka yang cerah, murah senyum dan ramah. Dari pakaiannya, seorang muslim tampil bersih, rapi dan sopan menutup auratnya. Demikian pula halnya dalam seluruh sikap dan perilakunya (suluk) menampakkan keistimewaan seorang muslim.



Bila celupan Allah telah meresap pada diri seorang muslim, maka tidak akan ada yang lebih istimewa keberadaannya selain kaum muslimin. Tidak akan ada ummat yang kehadirannya lebih baik, lebih indah dan lebih bermanfaat daripada kaum muslimin. Sungguh, bila Islam telah menjadi celupan yang membentuk jatidiri muslim, maka ummat manusia pun tidak sulit untuk merasakan keindahan dan kenikmatan hidup dalam naungan Islam. “Dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada celupan Allah?”



Saatnyalah bagi kita, kaum muslimin, untuk mulai membuka diri selebar-lebarnya sehingga celupan Allah dapat meresap ke dalam seluruh sendi tubuh kita, dalam hati dan pikiran, ke dalam sikap dan perilaku kita. Perlahan celupan itu akan mewarnai diri kita, menjadi jatidiri kita sebagai seorang muslim.

Sumber: Unknown





Sunday, February 7, 2010

Menghias Hati Dengan Menangis



Oleh: Muhammad Nuh


“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

1. Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain

Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu.

Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

2. Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung

Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat
itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita.

Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

3. Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit

Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan.

Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

4. Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih

Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada.

Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan.

“Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.


Sumber rujukan: Dakwatuna.com

Selamat hari Lahir...!



Bismillahirrahmanirrahim

Assalammualaikum wa rahmatullah,

Buat ukhti yang dikasihi...yang DIA pertemukan denganku di jalan tarbiyyah....

Selamat Hari Lahir!

Sehari lagi bertambah usiamu…Kematian menghampiri…kehidupan minta diisi...

Merenung ke belakang, kak melihat dirimu yang telah semakin dewasa dan matang, yanie bukan insan biasa-biasa yang hanyut dengan dunia tapi seorang yang lembut hati sentiasa berusaha mencari makna kehidupan yang hakiki, sentiasa berusaha memperbaiki diri...

Yanie adikku yang dikasihi…kita telah sama-sama berada di jalan tarbiyyah…jalan murni yang mendidik hati dan diri kita. Jalan yang menyedarkan diri kita untuk turut mengajak orang lain memperbaiki diri, mudah-mudahan semua ini - telah, akan dan selama-lamanya kita ikhlaskan kerana ALLAH, dalam perjalanan kita pulang menemui pencipta..

Yanie ..jika diizin ALLAH, perjalanan hidup ini masih panjang..semoga yanie dan kaknurul serta sahabat-sahabat mampu istiqomah beriman dan bertaqwa melalui liku-liku perjalanan, menghadapi misteri hari esok yang kita tak pernah tahu.
Kita tekadkan untuk bertemu rasulullah di rumah asal kita bernama syurga dengan kita memilih ditarbiyyah dan mentarbiyyah, meneruskan misi Rasulullah menyebarkan dan mengagungkan islam dan syariatNYA…malu rasanya mengungkap syurga kerana kita tahu amal dan iman kita banyak cacat celanya, namun adakah kita MAHU pilihan lain sebagai tempat kembali???

Jika ALLAH menetapkan ajal kita tiba sebentar lagi, moga kita menghadap ALLAH dengan iman dan amal kita yang paling baik serta hati yang paling bersih..

Yanie…hidup ini tak menjanjikan kesenangan dan kemudahan selalu, kerana kebahagiaan yang hakiki hanya ada di taman kekal abadi bernama syurga…ada ketika-ketikanya kita berasa bosan, berasa sedih dan serabut, berasa tertekan dan gelisah, ada ketikanya merasa diri lemah dan terlalu kerdil…di sana kita ada ALLAH Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang..

Cukuplah hanya ALLAH tempat kita mengadu segala-galanya...kita memohon kekuatan dariNYA agar diperbaiki segala urusan hidup dan diberi ketentuan menerima segala ketetapanNYA. Teruslah bina kedekatan hati kita dengan ALLAH melalui mutaba’ah/perancangan ibadah yang telus dan konsisten. Sungguh, segala kekuatan dan kebaikan HANYA dari ALLAH...

Dan peliharalah ukhuwah...kerana manisnya ukhuwwah antara teman-teman yang memahami dan sama-sama menempuh jalan tarbiyyah ini sesungguhnya menjadi bekal utama kita untuk terus bangun selepas jatuh dan lemah…ukhuwah dan iman bukanlah perkara yang terpisah, kerana sesungguhnya kita amat perlukan kasih sayang dan semangat dari sahabat-sahabat, walau sekadar bertatap muka. Dan kita sendiri perlu banyakkan memberi kasih sayang dan kekuatan pada insan-insan lain sebelum kita mengharapkan perkara yang sama...

Akhir kata, teruslah berusaha menjadi hamba yang ALLAH redha dan cintai... dalam kesibukan studi, rancanglah hari-hari yang dilalui agar memberi makna pada diri dan mampu memberi manfaat pada insan lain, semoga yani terus tabah dan thabat( kekal) di jalan dakwah dan tarbiyyah serta mendapat peliharaan ALLAH dari godaan syaitan dan hawa nafsu yang menipudaya….

Nurul ‘Adni ‘Adnan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...